Selasa, 28 Juli 2015
Manajemen SDM: Budaya Kerja
Manajemen SDM: Budaya Kerja: 1. Pengertian Budaya Budaya adalah pokok penyelesaian masalah-maslah eksternal dan internal yang pelaksanaannya dilakukan secara ko...
Budaya Kerja
1. Pengertian
Budaya
Budaya
adalah pokok penyelesaian masalah-maslah eksternal dan internal yang
pelaksanaannya dilakukan secara konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian
mewariskan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang tepat untuk memahami,
memikirkan, dan merasakan terhadap masalah-masalah terkait seperti di atas (
Peter F. Drucker)
2. Pengertian Budaya Kerja
Budaya
kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan
juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap
menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud
sebagai kerja.
3.
Terbentuknya Budaya Kerja
Budaya kerja berbeda antara organisasi satu dengan
yang lainnya, hal itu dikarenakan
landasan dan sikap perilaku yang dicerminkan oleh setiap orang dalam organisasi
berbeda. Budaya kerja yang terbentuk secara positif akan bermanfaat karena
setiap anggota dalam suatu organisasi membutuhkan
sumbang saran, pendapat bahkan kritik yang bersifat membangun dari ruang
lingkup pekerjaaannya demi kemajuan di lembaga pendidikan tersebut, namun
budaya kerja akan berakibat buruk jika pegawai dalam suatu organisasi
mengeluarkan pendapat yang berbeda hal itu dikarenakan adanya perbedaan setiap
individu dalam mengeluarkan pendapat, tenaga dan pikirannya, karena setiap
individu mempunyai kemampuan dan keahliannya sesuai bidangnya masing-masing.
Untuk memperbaiki
budaya kerja yang baik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merubahnya, maka
itu perlu adanya pembenahan-pembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku
pemimpinnya kemudian diikuti para bawahannya. Terbentuknya budaya kerja
diawali tingkat kesadaran pemimpin atau pejabat yang ditunjuk, dimana besarnya
hubungan antara pemimpin dengan bawahannya akan menentukan cara tersendiri apa
yang dijalankan dalam perangkat satuan kerja atau organisasi
Maka dalam hal ini
budaya kerja terbentuk dalam satuan kerja atau organisasi itu berdiri, artinya
pembentukan budaya kerja terjadi ketika lingkungan kerja atau organisasi
belajar dalam menghadapi permasalahan yang menyangkut masalah organisasi . Cakupan makna setiap nilai budaya kerja tersebut,
antara lain:
a. Disiplin;
Perilaku yang senantiasa berpijak pada peraturan dan norma yang berlaku di
dalam maupun di luar perusahaan Disiplin meliputi ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan prosedur, berlalu lintas, waktu kerja,
berinteraksi dengan mitra, dan sebagainya.
b. Keterbukaan;
Kesiapan untuk memberi dan menerima informasi yang benar dari dan kepada sesama
mitra kerja untuk kepentingan perusahaan.
c. Saling
menghargai; Perilaku yang menunjukkan penghargaan terhadap
individu, tugas dan tanggung jawab orang lain sesama mitra kerja.
d. Kerjasama;
Kesediaan untuk memberi dan menerima kontribusi dari dan atau kepada mitra
kerja dalam mencapai sasaran dan target perusahaan
Kesuksesan organisasi
bermula dari adanya disiplin menerapkan
nilai-nilai inti perusahaan. Konsistensi dalam menerapkan kedisiplinan dalam
setiap tindakan, penegakan aturan dan kebijakan akan mendorong munculnya
kondisi keterbukaan, yaitu keadaan yang jadi prasangka negatif karena segala sesuatu
disampaikan melalui fakta dan data yang akurat (informasi yang benar).
Selanjutnya, situasi yang penuh dengan keterbukaan akan meningkatkan komunikasi
horizontal dan vertikal, membina hubungan personal baik formal maupun informal
diantara jajaran manajemen, sehingga tumbuh sikap saling menghargai. Pada
gilirannya setelah interaksi lintas sektoral dan antar karyawan semakin baik
akan menyuburkan semangat kerjasama dalam wujud saling koordinasi manajemen
atau karyawan lintas sektoral, menjaga kekompakkan manajemen, mendukung dan
mengamankan setiap keputusan
manajemen, serta saling mengisi dan melengkapi. Hal inilah yang menjadi tujuan
bersama dalam rangka membentuk budaya kerja. Fungsi budaya kerja bertujuan
untuk membangun keyakinan sumberdaya manusia atau menanamkan nilai-nilai
tertentu yang melandasi atau mempengaruhi sikap dan perilaku yang konsisten
serta komitmen membiasakan suatu cara kerja di lingkungan masing-masing. Dengan
adanya suatu keyakinan dan komitmen kuat merefleksikan nilai-nilai tertentu,
misalnya membiasakan kerja berkualitas, sesuai standar, atau sesuai ekpektasi
pelanggan (organisasi), efektif atau produktif dan efisien.
Tujuan fundamental budaya kerja adalah untuk
membangun sumber daya manusia seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa mereka
berada dalam suatu hubungan sifat peran pelanggan, pemasok dalam komunikasi
dengan orang lain secara efektif dan efisien serta menggembirakan. Budaya kerja
berupaya mengubah komunikasi tradisional menjadi perilaku manajemen modern,
sehingga tertanam kepercayaan dan semangat kerjasama yang tinggi serta
disiplin. Dengan membiasakan kerja berkualitas, seperti berupaya melakukan cara
kerja tertentu, sehingga hasilnya sesuai dengan standar atau kualifikasi yang
ditentukan organiasi. Jika hal ini dapat terlaksana dengan baik atau membudaya
dalam diri pegawai, sehingga pegawai tersebut menjadi tenaga yang bernilai
ekonomis, atau memberikan nilai tambah bagi orang lain dan organisasi. Selain
itu, jika pekerjaan yang dilakukan pegawai dapat dilakukan dengan benar sesuai
prosedur atau ketentuan yang berlaku, berarti pegawai dapat bekerja efektif dan
efisien.
Budaya kerja mempunyai arti yang sangat
mendalam, karena akan sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai
produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan.
Disamping itu masih banyak lagi manfaat yang muncul seperti kepuasan kerja
meningkat, pergaulan yang lebih akrab, disiplin meningkat, pengawasan
fungsional berkurang, pemborosan berkurang, tingkat absensi menurun, terus
ingin belajar, ingin memberikan terbaik bagi organisasi, dan lain-lain.
Berdasarkan
pandangan mengenai manfaat budaya kerja, dapat ditarik suatu dskripsi sebenarnya
bahwa manfaat budaya kerja adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia, kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja sehingga sesuai yang
diharapkan.
4.
Unsur– Unsur Budaya Kerja
Budaya
kerja adalah berpijak dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa atau
masyarakat Indonesia yang diolah sedemikian rupa menjadi nilai-nilai baru yang
akan menjadi sikap dan perilaku manajemen yang diharapkan dalam upaya
menghadapi tantangan baru. Budaya kerja tidak akan muncul begitu saja, akan
tetapi harus diupayakan dengan sungguh-sungguh melalui proses yang terkendali
dengan melibatkan semua sumber daya manusia dalam seperangkat sistem, alat-alat
dan teknik-teknik pendukung.
Budaya kerja
akan menjadi kenyataan melalui proses panjang, karena perubahan nilai-nilai
lama menjadi nilai-nilai baru akan memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dan
tak henti-hentinya terus melakukan penyempurnaan dan perbaikan
Menurut Taliziduhu Ndraha, budaya kerja dapat dibagi
menjadi dua unsur, yaitu:
- Sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidupnya.
- Perilaku pada waktu bekerja, seperti rajin, berdedikasi, bertanggung jawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesma pegawai, atau sebaliknya. Budaya kerja merupakan suatu organisasi komitmen yang luas dalam upaya untuk membangun sumber daya mnusia, proses kerja dan hasil kerja yang lebih baik. Untuk mencapai tingkat kualitas yang makin baik tersebut diharapkan bersumber dari perilaku setiap individu yang terkait dalam organisasi kerja itu sendiri. Setiap fungsi atau proses kerja mempunyayi perbedaan cara kerja, yang mengakibatkan berbeda nilai-nilai yang cocok untuk diambil dalam kerangka kerja organisasi. Setiap nilai-nilai apa yang sepatutnya dimiliki oleh pemimpin puncak dan pemimpin lainnya, bagaimana perilaku setiap orang akan mempengaruhi kerja mereka.
Jumat, 24 Juli 2015
Kinerja karyawan
1 Pengertian kinerja
Istilah kinerja
berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance ( prestasi kerja atau
prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang ). Pengertian kinerja
karyawan yang dikemukakan oleh Mangkunegara dalam bukunya yang berjudul
“Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan” (2011:67), yang menyatakan bahwa :
Kinerja
adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
Karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan..
2. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja karyawan.
Perusahaan
sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan yakni memperoleh
keuntungan.Organisasi dapat beroperasi karena kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan oleh para karyawanyang ada di dalam organisasi tersebut. Menurut
Prawirosentono (1990), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan sebagai
berikut :
1. Efektivitas dan efisiensi
2. Otoritas dan tanggung jawab.
3. Disiplin.
4. Inisiatif.
a. Penilaian kinerja karyawan memberikan
informasi bagi pertimbangan pemberian promosi dan penetapan gaji.
b. Penilaian kinerja karyawan memberikan
umpan balik bagi para manager maupun
karyawan unutk melakukan intropeksi dan meninjau membali perilaku selama ini,
baik yang positif maupun negatif untuk kemudian dirumuskan kembali sebagai
perilaku yang mendukung tumbuh berkembangnya budaya organisasi secara
keseluruhan.
c. Penilaian kinerja karyawan diperlukan
untuk pertimbangan pelatihan dan pelatihan kembali ( retraining ) serta
pengembangan.
d. Penilaian kinerja karyawan dewasa ini bagi setiap organisasi khususnya
organisasi bisnis merupakan suatu keharusan, apalagi dilihat tingginya
persaingan antar perusahaan.
e. Hasil penilaian kinerja karyawan lebih
jauh akan menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam melihat bagaimana kondisi
perusahaan tersebut. Temasuk menjadi bahan masukan bagi lembaga pemberi
pinjaman dalam melihat kualitas kinerja karyawan suatu perusahaan, misalnya
pada saat pengajuan pinjaman kredit maka pihak perusahaan bisa memperlihatkan
kualitas hasil kinerja karyawan dimana
itu bisa menjadi bahan masukan untuk mendukung keputusan pemberian kredit,
yaitu pihak pemberi pinjaman menjadi lebih yakin dan dipercaya.
- Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian karyawan secara maksimum.
- Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan, seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.
- Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
- Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka.
- Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
Manfaat yang diperoleh dari penilaian
kinerja ini terutama menjadi pedoman dalam melakukan tindakan evaluasi bagi
pembentukan organisasi sesuai dengan pengharapan dari berbagai pihak, yaitu baik
pihak manajemen serta komisaris perusahaan. Tahap penilaian terdiri dari tiga
tahap rinci :
- Perbandingan kinerja sesungguhnya dengan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
- Penentuan penyebab timbulnya penyimpangan kinerja sesungguhnya dari yang ditetapkan dalam standar.
c. Penegakan perilaku yang diinginkan dan tindakan yang
digunakan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan.
Langganan:
Postingan (Atom)